Puisi Aku Kehilanganmu (PAK)

Diposting oleh Katasikus pada 20:31, 29-Jul-16

ThumbnailDuduk merenung Di bawah remang lampu temaram Laron-laron kecil seumpama saksi bisu Hendak berbisik namun tak ingin terusik Sejenak terdiam Ingatan kembali menjangkau masa lalu Menerka jauh ke detik-detik peristiwa pilu Membuka kisah yang tenggelam ditelan waktu Perasaan berkecamuk melanda rongga dada Sedikit demi sedikit merempuh-rempuh batin Benih-benih sesal datang silih berganti Menjamah hati kian menikam sanubari Ada yang salah malam ini Di mana ruang tak seperti biasanya Tidak terlihat namun tetap terasa Tidak tersentuh... [Baca selengkapnya]

Di Padang Ilalang Kutulis Puisi Ini

Diposting oleh Katasikus pada 13:06, 26-Jul-16

ThumbnailDi padang ilalang aku menari-nari/ Semilir angin menyentuh lembut pipi/ Kupu-kupu tebar pesona kasih abadi/ Sayapnya tenang setenang air di kali// Terpejam mata sejenak aku manjakan diri/ Melayang terbang bagaikan burung merpati/ Melapangkan dada hendak mendamaikan hati/ Demi meraih sebuah ketenangan suci yang hakiki// Tiba-tiba sekejap berhenti/ Awan hitam berarak tertiup angin kencang/ Kilat menyambar disusul bunyi gemuruh petir/ Hujan deras kini buyarkan semua mimpi-mimpi// Melangkah cepat aku mulai berlari/ Menginjak duri seolah... [Baca selengkapnya]

Lembar Kisah Selingkuh (LKS)

Diposting oleh Katasikus pada 01:25, 22-Jul-16

ThumbnailSehabis ujian semester kemarin suasana kuliahan menjadi sedikit berbeda setelah kedatangan seorang dosen baru asal ibu kota. "Baiklah anak-anak, mulai hari ini bapak akan menjadi dosen kalian, perkenalkan nama bapak adalah Indra," dosen baru memperkenalkan diri. Karena hari pertama pak Indra mengajar hanya sekadar ajang perkenalan, pulang pun lebih awal dari jadwal biasanya. Di gerbang kuliahan. "Adi!" Sapa Widia pada pacarnya. "Cepet bangget pulang kuliah... [Baca selengkapnya]

Mereka Jelas Ada Di Sekitar Kita

Diposting oleh Katasikus pada 23:50, 19-Jul-16

ThumbnailPada pesta ulang tahun malam itu ribuan kembang api mahal terbakar bercahaya terang benderang berwarna-warni silih berganti menghiasi langit angkasa gelap hingga puing-puingnya berjatuhan menyentuh ujung rambut dan telapak tangan rapuh seorang anak kecil berpakaian compang-camping di seberang jalan. Berkedip ia berderai air mata. "Tuhan ubahlah puing-puing kembang api ini menjadi sehelai kain agar hamba tidak merasa kedinginan." Lirih dia berdoa. Sementara dilihat... [Baca selengkapnya]